Tuesday, February 18, 2014

“Bahasa Jawa Harus Membaur dalam Pasrawungan Global”

Pertengahan Desember 2013, Lembaga Penerbitan Pers Mahasiswa (LPM) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Kudus mewawancarai saya, Dhoni Zustiyantoro, terkait upaya pemertahanan bahasa Jawa di era modern. Di sini, saya hadirkan hasil wawancara berupa catatan. Semoga bermanfaat.
---------------------------------------------------------------------------
Bapak Dhoni Zustiyantoro, pegiat budaya Jawa, penulis di rubrik "Pamomong" berbahasa Jawa Suara Merdeka,
1)        Bagaimana Anda menilai sejarah perkembangan bahasa Jawa hingga kini?
Bahasa Jawa sebenarnya sudah sangat berkembang. Salah jika mengatakan bahasa ini kuno dan ketinggalan zaman. Bahasa Jawa sebagai produk kultural budaya Jawa telah mampu berakulturasi dengan bahasa dan budaya lain di luar Jawa.
Penduduk asli Jawa yang tak hanya tersebar di berbagai pelosok negeri ini, tetapi juga  di negara lain, sebut saja Malaysia dan Suriname, punya andil dalam tumbuh-berkembangnya bahasa Jawa. Daerah sebaran penutur yang sangat luas ini menyebabkan konsekuensi dari munculnya berbagai dialek geografis. Sementara itu, dilihat dari beranekanya lapisan masyarakat yang memakainya, sangat menonjol pula adanya perbedaan pemakaian yang dipengaruhi oleh usia pemakai.
Perbedaan yang menonjol ini tampak jelas manakala mereka menerapkan unggah-ungguh dalam berbahasa Jawa. Salah satu bentuk unggah-ungguh yang sangat penting adalah pemilihan ragam tingkat bahasa Jawa ngoko dan krama di dalam berkomunikasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, misalnya kelas sosial, usia, jenis kelamin, topik pembicaraan, dan lain sebagainya.
Hal yang kurang tepat jika kita punya persepsi bahwa bahasa Jawa yang “standar” itu gaya Surakarta dan Yogyakarta. Karena bahasa merupakan kesepakatan, ia dituturkan, dikelola, dan dikembangkan oleh masyarakat pemakainya. Meski kemudian berakulturasi dengan banyak bahasa lain yang dibawa oleh para pendatang. Kemudian kita tahu, ada bahasa Jawa semarangan,  pesisiran, banyumasan, ngapak-tegalan, hingga jawa timuran. Semua punya pakemnya sendiri dan berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

2)        Seberapa pentingkah pelestarian bahasa Jawa ke depan? Mengapa?
Bahasa Jawa mengandung tingkat tutur yang bila diterapkan secara semestinya, akan secara otomatis mengajarkan ungguh-ungguh. Ilustrasinya seperti ini. Seorang anak yang berbicara kepada orangtuanya tidak dibenarkan menggunakan bahasa Jawa ragam ngoko dan sudah semestinya menggunakan krama. Dan, mau tidak mau ketika sudah berbahasa krama, solah bawa pun harus selaras. Posisi badan tidak dibenarkan lebih tinggi dari yang diajak bicara. Ini adalah wujud betapa ketika bertutur, sikap tubuh haruslah mengikuti dan selaras. Itu saya katakan “konsep awal” pengenalan unggah-ungguh, menyatu atau nyawiji antara tuturan dan tindakan. Lebih jauh, dalam budaya Jawa, hal itu tiada lain untuk ngajeni liyan, menghargai sesama. Melalui tuturan dan tindakan yang baik, sebagai individu, kita hendak “meninggikan derajat” orang yang kita ajak bicara.

3)        Menurut Anda, faktor apa yang menyebabkan bahasa Jawa semakin pudar? Siapa saja yang berperan?
Yang sering disalahkan terkait dengan memudarnya bahasa Jawa adalah anak-anak dan generasi muda. Mereka sering dianggap tidak bisa atau tidak mau berbahasa Jawa. Memang, nyatanya dalam pergaulan dan kesehariannya, terutama bagi yang tinggal di perkotaan, remaja lebih gemar berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, apalagi dengan mengimbuhkan banyak istilah asing.
Akan tetapi, sudahkah para orangtua juga mengajarkan dengan semestinya? Mereka acap menginginkan anaknya berbahasa Jawa dengan halus dan sempurna, tapi tak lagi secara konsisten memberikan pembelajaran itu dalam keluarga. Lagi-lagi alasan kesibukan dan banyaknya pekerjaan menjadi faktor penghambat pendidikan Jawa dan moral ini absen dalam keluarga.
Kemudian, orangtua pasrah sepenuhnya dan memberikan tanggungjawab ini kepada sekolah dan guru. Ini yang harus dibenahi. Berapa jam pelajaran bahasa Jawa dalam waktu seminggu? Berapa jam siswa berada di sekolah? Tentu tidak lebih lama dari saat mereka ada di rumah, bersama keluarga.

4)        Bagaimana sebaiknya agar masyarakat tetap melestarikan bahasa Jawa?
Bisa dimulai dari keluarga sebagai bagian terdekat dengan seorang anak sebagai pewaris dan generasi penutur bahasa Jawa. Selain itu, berusaha menempatkan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dalam komunikasi dan interaksi seluruh anggota masyarakat. Bahasa Jawa juga harus didorong untuk selalu digunakan sebagai bahasa pengantar informasi, komunikasi, dan edukasi di masyarakat seperti dalam khotbah keagamaan di tempat peribadatan, rapat-rapat RT/RW, kegiatan maupun ritual agama dan tradisi, dan dalam kegiatan organisasi masyarakat.

5)        Bagaimana peluang bahasa Jawa ke depan?
Setiap tahun di kampus Universitas Negeri Semarang, saya punya teman-teman baru. Mereka adalah mahasiswa asing yang belajar seni dan budaya Indonesia melalui sebuah program yang dijalankan pemerintah. Mereka juga tertarik untuk belajar bahasa Jawa.
Melihat hal itu, betapa bahasa Jawa adalah aset kultural yang tak ternilai. Bahasa Jawa telah melintas batas, tidak cuma dipakai, dan pada bagian lain sering dikatakan diuri-uri, oleh masyarakat lokalnya, tetapi dalam ranah yang lebih luas, bahasa Jawa dipelajari, dan dicecap beragam kearifannya. Berdasar pengalaman saya bersama beberapa kawan mementaskan kesenian di Prancis, tahun 2012, juga membuktikan, apresiasi khalayak asing sungguh luar biasa terhadap aset kultural salah satu budaya bangsa ini. Bahasa, termasuk seni dan budaya Jawa, sangat punya peluang untuk mengglobal dan mendunia.

6)        Apa saja yang menjadi tantangan kelestarian bahasa Jawa?
Ironi justru dicipta sendiri oleh para pemilik asli. Bahasa Jawa harusnya menjadi identitas dan karakter yang dibanggakan, di mana pun dan ke mana pun orang Jawa tinggal. Ketika dihadapkan pada realitas global, bahasa Jawa justru harus hadir untuk mengukuhkan lokalitasnya. Hal ini terkait dengan nilai dan kearifan yang mungkin mampu menjadi oase di tengah hiruk-pikuk modernitas. Masalahnya, tak semua orang Jawa punya semangat dan kesadaran ini. Dan, harus diakui, globalisasi menggiring kita pada pemikiran serba cepat, praktis, instan. Kita selalu mengklaim tak punya waktu untuk belajar bahasa Jawa yang dianggap sulit karena mengandung tingkat tutur. Namun tak ada yang tak mungkin. Bila segenap pihak bersatu untuk mewujudkan pola-pola pelestarian yang jelas, terarah, dan tertarget, bukan tidak mungkin bahasa Jawa kian mendapat tempat. Menggandeng pendidik, pemerhati, budayawan, hingga media, adalah bagian dari upaya itu.

7)        Apa saja dampak negatif dari kian lunturnya budaya tutur bahasa Jawa?
Saya tidak perlu mendikte dan menjelaskan tentang hal itu, tapi coba kita lihat realitas yang ada dewasa ini. Lewat media kita tahu, di Jakarta banyak siswa usia sekolah yang beramai-ramai membajak bus, tawuran, dan melakukan tindakan kriminal lain. Di daerah lain, bocah seusia SD bertindak asusila dengan menyetubuhi anak TK setelah menonton video porno. Bahkan, tidak sedikit pula yang bahkan melakukan tindakan itu kemudian merekamnya. Realitas tersebut adalah bukti bahwa makin lunturnya moral di kalangan remaja sebagai generasi penerus bangsa, yang tentu dibarengi dengan menurunnya banyak hal yang terkait dengan pendidikan moral itu sendiri. Saya rasa semua ini saling berkaitan, tentang hadirnya sikap dan perilaku berbudaya, yang bisa dimulai dari cara bertutur. Tentu kita tidak berharap ironi ini makin mengakar dan menjangkiti generasi muda. Caranya? Tiada lain dengan menanamkan kearifan sejak dini. Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu bagi penduduk asli Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur, bisa menjadi sarana jitu.

8)        Bagaimana menurut Anda, peran pendidikan formal terhadap pelestarian bahasa Jawa?
Pendidikan formal, dalam hal ini sekolah, punya andil besar pada apa yang disebut sebagai pelestarian bahasa Jawa. Dalam upaya ini, kualitas guru tentu saja menjadi hal yang teramat penting. Menggunakan media yang menarik dan pembelajaran yang tidak membosankan bagi siswa, menjadi kunci diminatinya pelajaran bahasa Jawa. Hal ini sebagai upaya supaya pelajaran itu tak jadi momok di sekolah, membuat bahasa Jawa tak berjarak dengan siswa. Pemerintah dan perguruan tinggi sebagai pencetak tenaga pendidik harus berupaya untuk melakukan peningkatan mutu pembelajaran dan melakukan kontrol kualitas para guru.

9)        Apa trik-trik khusus yang Anda lakukan guna melestarikan bahasa Jawa?
Sederhana saja, selalu menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Jawa akan selalu ada jika selalu digunakan oleh para penuturnya. Karena nyatanya sekarang banyak orang yang enggan berbahasa Jawa, meski sama-sama tahu, yang diajak ngobrol adalah orang yang sama-sama paham bahasa Jawa. Ini tidak salah, tapi dalam upaya pemertahanan, langkah awal memang selalu menuturkannya. Kesadaran ideologis untuk itu perlu senantiasa dibiakkan. Tak harus muluk-muluk pakai krama, tapi bisa diawali dengan ngoko. Yang penting keterbukaan dan kemauan untuk belajar.

10)    Apa harapan Anda mengenai perkembangan bahasa Jawa?
Bahasa Jawa harus nut jaman kalakone, mengikuti perkembangan zaman. Bahasa Jawa harus mampu menyatu dan membaur dalam pasrawungan global. Dengan cara itulah, bahasa Jawa bakal mampu “diajak berpikir global”, namun tetap membiakkan kearifan lokal.

11)    Adakah pesan khusus untuk pemuda Jawa terdidik?
Bahasa Jawa adalah warisan tak ternilai. Sebagai generasi muda, sudah menjadi kewajiban untuk selalu menjaga dan terus mengadakannya. Ini adalah tanggung jawab moral. Para pujangga bilang, rum kuncaraning bangsa dumunung aneng luhuring budaya, kebesaran sebuah bangsa terletak pada luhur budayanya. Kelak, semoga bahasa Jawa tidak menjadi jejak sejarah, tapi selalu ada, untuk dituturkan, dan dibanggakan sebagai produk sekaligus aset kultural.

Monday, February 17, 2014

Basa Jawa Ora Cukup ing Sekolah

Basa Jawa sansaya ora nduweni papan panggonan. Kebukti, ing satengahing kulawarga lan bebrayan Jawa, basa Jawa kaya-kaya wis ora dadi basa ibu. Nganggo basa Jawa sing bener lan ketata saiki mung dadi pangangen-angen sing wis angel kewujud. Kanthi cara sing kepriye, basa Jawa bisa tetep bisa kuncara ing satengahe pasrawungan global?

Kahanan sing nggegirisi iku ora mung ana ing satengahing bebrayan lan kulawarga, ing sekolahan, muatan lokal (mulok) Basa Jawa mung disia-sia. Iku amarga ing Kurikulum 2013 sing durung watara suwe mlaku iku, wektu sing dialokasikake sansaya mepet. Ing kelas, Basa Jawa ing kurikulum anyar digabung karo Seni dan Budaya.

Kanggo kelas I nganti III sekolah dasar (SD), muatan lokal diwenehi wektu 4 jam, kanggo kelas IV-VI ana 6 jam pelajaran. Ing sekolah menengah pertama (SMP), mulok kejatah 3 jam pelajaran seminggu. Kanggo sekolah menengah atas (SMA), mulok mung ana 2 jam. Banjur, kepriye nasib pelajaran Basa Jawa yen wektune ing kelas sansaya cupet amarga digabung karo pelajaran liyane?
Mligi ing Jawa Tengah, Basa Jawa dadi mulok ing sekolah amarga Surat Keputusan (SK) Gubernur Nomor 895.5/01/2005 tentang Pemberlakuan Kurikulum Bahasa Jawa SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK. Sawise iku, Basa Jawa banjur diwajibake amarga ana Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2012 tentang Bahasa, Sastra, dan Aksara Jawa.

Temtu wae, sekolah sing maune setengah-setengah ngajarake Basa Jawa dadi malik-grembyang rame-rame golek guru. Peluang kerja wis dibukak. Para calon mahasiswa padha rame-rame mlebu perguruan tinggi, jipuk jurusan sing dikarepake bisa dadi dalan panguripan.
Pancen, mahasiswa sing kepengin kuliah ing jurusan iki uga ora sithik. Saben taun, kanggo conto, Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa ing Universitas Negeri Semarang nampa mahasiswa ora kurang saka 125 mahasiswa.

Ora mung perkara lapangan kerja lan ana-orane pelajaran iku ing sekolahan. Basa Jawa satemene uga isih dikarepake dadi benteng moral kanggo para siswa sing saiki morale sansaya ngwatirake. Kebukti, akeh tindak kriminal awujud nyolong, nganti tindakan asusila sing dilakoni para siswa usia sekolah.
Kabeh iku mau dipercaya saka pendidikan moral sing kurang ana ing sekolah. Anane Basa Jawa dikarepake bisa dadi sarana nggulawenthah para siswa supaya ora metu saka dalan sing samesthine.
Nanging, pemerintah kaya-kaya ora temenanan anggone ngecakake peraturan. Sanadyan akeh lembaga pemerintahan utawa swasta padha menehi alokasi sedina wajib nggunakake basa Jawa ing instasine, nanging ing tataran pendidikan, pemerintah dianggep durung temanan utawa pancen durung regulasi utawa aturan kang bisa dadi paugeran supaya basa Jawa saorane tetep dadi sarana komunikasi.

Gumregah
Ora ana liya, kanggo njejegake kahanan sing kaya mangkono, pemerintah daerah (Pemda) pancen kudu gumregah ngrampungi perkara. Sacara formal, kudu digawe aturan sing bisa dilakoni lan dikawal dening sapa wae. Kanthi rasa handarbeni, basa Jawa ora mung dadi tanggung jawabe pemerintah, nanging uga bebrayan.

Luwih-luwih ing Jawa Tengah, Basa Jawa nduweni payung hukum sing luwih kuwat. Iku amarga wiwit taun 2005, basa Jawa wis diwajibake minangka salah siji mulok sing kudu diajarake ana ing sekolahan, wiwit SD nganti SMA.

Mula, antarane Dinas Pendidikan, Badan Bahasa, lan luwih-luwih para guru kudu njejegake apa sing wis dadi peraturan daerah iku mau. Aja nganti kurikulum anyar sing lagi dijajal ana 877 sekolah ing Jawa Tengah dadi model sing ora becik amarga wiwit ngilangi pelajaran Basa Jawa.

Apamaneh, Kongres Bahasa Jawa ing Surabaya taun 2011 sing dirawuhi para ahli bahasa, pendidik, pemerhati, budayawan, lan sastrawan, wis paring amanat yen kabeh SD, SMP, lan SMA/sederajat ing Jawa Tengah, Jawa Timur, lan Yogyakarta wajib ngajarake pelajaran Basa Jawa.

Saliyane Jawa Tengah, Bali nduweni Perda Nomor 3 Tahun 1992 ngenani Bahasa, Aksara, lan Sastra Bali. Semono uga Jawa Barat, kanthi Perda Nomor 6 Tahun 1996 sing direvisi Perda Nomor 5 Tahun 2003.

Saka iku, wis genah ana aturan sing kudu dijejegake. Kita, minangka panganggo, kudu nduweni peran minangka sing aktif menehi pandangon lan kritis marang kebijakan pemerintah. Bebrayan uga kudu melu nyawang kahanan ing daerah, pranyata yen ana sing ora trep karo sing ana ing kasebut, kita duwe kwajiban nglapurake.

Nasib Guru
Ngenani gonjang-ganjing perkara pasinaon basa Jawa ing sekolahan, ana kabar paling anyar kaya dimuat koran Suara Merdeka, 2 Agustus 2013. Basa Jawa bakal diajarake ing kabeh jenjang sekolah, wiwit SD nganti SMA utawa sederajat. Iku amarga wis ana Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah No 424.I3242 tanggal 23 Juli 2013.

Peraturan mangkono temtu gawe bungahing mayuta-yuta guru Basa Jawa ana propinsi iki. Sadurunge, kaya diandharake ana ndhuwur, pemerintah ora bebela marang basa daerah, utamane basa Jawa.

Nanging, sawise ana penguatan kaya mangkono, tetep ora elok yen mung pasrah bongkokan ngandhalake pasinaon basa Jawa karo sekolahan. Tegese, minangka wong sing luwih nduweni wektu sing luwih akeh karo anak, wong tuwa uga kudu nduweni kawigaten sing luwih.

Upaya sing kaya mangkono sejatine mujudake hubungan sing tansah selaras antarane murid, sekolahan, lan wong tuwa. Kanthi mangkono uga, murid ora bakal salah kedaden amarga nduweni pihak-pihak sing tansah peduli. Nilai-nilai sajroning kabudayan Jawa ora mung dientuki saka sanjerone pager sekolah.

Pancen wis samesthine kita melu urun-rembug babagan kahanan basa Jawa minangka salah siji wujud kabudayan Nuswantara sing sejatine bisa agawe kuncara lan diajeni dening bangsa liya. Sadurunge angen-angen iku kawujud, basa Jawa kudu dadi tuan rumah ing laladane dhewe.
(Tulisan menika pamundhut saking redaksi majalah Paradigma Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus, kapacak ing edisi Desember 2013)

Dhoni Zustiyantoro

Monday, January 27, 2014

Tekane Banyu ing Jaman Kalabendu

Bener yen banyu iku berkah saka Sing Gawe Urip. Tanpa banyu, ora ana makhluk kang bisa urip. Nalika manungsa tansah nyeyuwun berkah tanpa kendhat, Gusti uga Mahamurah lan menehi apa sing dikarepake: banyu ora kurang, luwih, nganti turah.

Pungkasane, kabeh pirantine urip dadi keli dening banyu kang ngentirake sekabehane. Dalan ketutup, ora bisa dilewati. Omah padha kelem, alat transportasi ora bisa mlaku. Ora sithik kurban manungsa, ora kuwawa nglawan derese banyu. Kabeh karana banyu kang sejatine dipercaya dadi sumbere kemakmuran lan kaberkahan. Banjur, yen wis kaya mangkene, sapa sing salah?

Yen disawang kanthi cara hakekat, banyu-banyu iku sejatine ora bisa mulih marang papan kang dituju. Ora beda kaya dene manungsa, banyu ya mung saderma lewat ana papan-papan kono. Nanging, awit saka pokale manungsa sing ora bisa ngopeni dalan banyu kanthi samesthine, banyu banjur nyasar, ora maneh dadi berkah lan sawayah-wayah bisa dadi musibah. Ya karana manungsa sing padha srakah.

Kanggo pangeling-eling, kabudayan Jawa sejatine wis akeh menehi pitutur yen dilakoni kanthi samesthine, bisa nyelarasake antarane urip bebrayan lan alam. Contone, unen-unen “urip mung mampir ngombe”. Ora beda karo prinsip banyu sing mung lewat iku mau, uripe manungsa ana ing alam dunya mung sedhela, suwene diibaratke karo wong ngombe.

“Mampir ngombe” uga pepeling yen mengkone, manungsa ora urunga bakal bali marang mula-mulanira: bali menyang ngarsane Gusti Kang Mahakawasa. Mula saka iku, manungsa dikarepake ora gampang kagodha marang sakehing nikmat kadunyan. Karana urip iku mung mampir lan bakal tumuju marang papan kang sejatine dituju.

Kanggo njaga lan nglestarekake alam, wiwit biyen manungsa Jawa tansah ngupadi supaya bisa urip selaras karo alam. Buktine, nganti saiki isih akeh ditindakake ritual lan tradisi sing ana gegayutane karo upaya nglestarekake. Ana bersih desa, sedekah desa, merti bumi, nganti sedekah laut. Sesanti memayu hayuning bawana dadi lelandhesane.

Mula saka iku, njaga alam lan lingkungan wis dadi kwajibane bebrayan Jawa. Amarga pancen sadhar yen saben dinane, alam wis menehi panguripan kang ora bisa diitung cacahe. Ritual sing adate uga digunakake kanggo sarana resik-resik kampung iku uga sarana mujudake rasa sukur: tanpa pitulungane Sing Gawe Urip, manungsa mung dadi makhluk kang ringkih lan tanpa daya.

Ananging, ing jaman modern ora kabeh bisa kalaksanan kanthi samesthine. Kabeh ritual mau kaya-kaya mung kandheg netepi wajib, tanpa ana upaya nyata kanggo ngrumat lan njaga alam saisine. Kali padha mampet, wit ana alas ditegor sembarangan tanpa mikir nandur gantine. Papan sing samesthine dadi dununge banyu, malah ditanduri beton lan cor-coran. Asile, aja kaget yen alam dadi murka: banyu bisa “playon” ana ngendi wae, jurang padha jugrug, banyu segara munggah ana dharatan.

Jaman Kalabendu?
Kasunyatan sing kaya mangkono mbokmenawa sing dimaksud Ranggawarsita minangka jaman kalabendu. Kanthi “ciri” sing wis gamblang, kaya-kaya jaman kalabendu sejatine wis katon. Jaman sing dipercaya minangka jaman edan amarga kabeh sarwa kuwalik, ora samesthine, lan wis owah saka adat sabene.

Ranggawarsita akeh nyebutake pratandha jaman kalabendu, ing antarane “kali ilang kedhunge”: kedhunge wis ilang, wis ora ana watese, kabeh dadi kali, banyu isa mili lan isa ana ing ngendi-endi. Ing kene, kali ora bisa maneh nampung banyu sing teka lumantar udan gedhe.

Awit saka kahanan sing kaya mangkono, temtu kahanan liyane sansaya gegirisi. Buktine sing uga wis kedadeyan, uga dipratelakake yen “lemah-lemah padha bengkah lan longsor, manungsa pating guluruh, akeh kang nandhang lara, pageblug rupa-rupa, mung setitik sing mari, akeh-akehe padha mati”.

Pancen, kabeh iku kedadeyan amarga ora bisa njaga keselarasan karo alam. Wektu sing dipercaya minangka tanda-tandane jaman edan lan kalabendu wis teka, menawa wektu sing pas kanggo nyawang kahanan dhiri-pribadi. Ora kanggo nyalahake sapa-sapa, ora kanggo golek benere dhewe.
Banyu dadi sarana wiwitan sekabehane. Kelebu ing agama, banyu wis nyawiji dadi sarana pasucen sajrone ngibadah. Ing crita wayang purwa, Bratasena uga didhawuhi guru Durna supaya golek tirta pawitra sari, yaiku sejatine banyu sing mapan ana samudra minangkalbu. Sanajan iku mung perlambang.

Ing tradisi Jawa, banyu uga akeh digunakake minangka sarana ritual. Contone ing ngantenan, ana sing diarani siraman. Calon nganten nindakke siraman nganggo banyu sing dijipuk saka pitung sumber. Pangajabe, supaya sajrone memangun bale wisma penganten kaloro bisa urip harmonis. Kaya dene banyu kang bisa mapan ana ngendi wae, nyelarasake karo papan sing dadi panggonane.
Nanging, ing wektu kang bebarengan karo pahargyan, sapa wae kang ngadani acara iku mesthi ora kepengin satengahing acara ana udan. Udan gedhe temtu bakal dadekake acara kang wis disiapke lan butuhake prabeya akeh iku ora mlaku kanthi samesthine.

Kanthi pepinginan iku, sing kagungan kersa bakal jaluk tulung marang pawang udan supaya banyu udan ora tiba ana sakupenge kono. Anane udan uga bakal ngalangi tangga lan sedulur sing bakal rawuh ana pahargyan. Yen tetep isih udan, dipercaya ana syarat sing kurang utawa ana tumindak sing kudu dilakoni.

Pancen bener, banyu dikarepake dadi berkah. Nanging ing wektu kang bebarengan, banyu uga bisa nyirnakake kekarepane sapa wae kang tumindak ala lan kurang becik marang alam lan sapepadhane. Kelebu sing ora gelem mujudke rasa sukur. (Suara Merdeka, 26 Januari 2014)
Dhoni Zustiyantoro

Friday, December 6, 2013

Guritane Didik Supriadi

NGARANIRA
dening Didik Supriadi

Delanggung hamung hanggungguh dhiri
nyawang kekiprahe si pawong pamengkang kardi
sing linambaran gelaring zamrut warna canthoka
kekadhalan tuwuh subur tanpa tinandur asta
sing mangsa kalane manembrama
kanthi kidung sepi panglilihe ati

mesat ing carita:
“lelakune paraga catur lan padha rukun hangentasi
karya Sang Aji, hamiji, haniti, nyaruduki nganti teka pepati
lamate padha kisruh miwir antawecanan
kanggo Willen pomah kumpeni sing wis madeg tanpa caturan
bisane mung namati dalan rumpek kebak pasulayan”

anon, tinon, takon, nemahi laku Ismaya
anggone paring pawarta
mesusi mono rally dimen ketiban daya
panambake tuk lan curug nganggo pipa walanda
dimen handana warih, handana luwih, handana jelih
tanpa jirih abusana siswa atameng wesi mobahke ngelmi
apeparap sarjana srenggala pati

sajroning gurit mangambar ganda sekar kumambang
ginelar thukul tanpa urea, ginulung mbilung tanpa pepetung
dadi papan pangudarasa sangarepe pandhapa agung

nalika iku, napaki mangsa gedhene sumber
prabane manggalasthi ambuka pang ron sinengker
ingaranan murud dhadhung sarira

Ungaran, 6 Desember 2013


Bel Geduwel Beh
Dening Didik Supriadi

jatahe numpak sepur malah ketampan nganggur
jatahe parak sunan ujube maring sumawanan
timbang ngleker alah sayang maring Pak Dokter

I
rasa seger hawa angler
nggo tambane geter ati sing nandang ser-muser
kateter padhatan kasamper gaweyan dadi lumayan
alah jebul keplangkrak aneng blumbang siwarak

papan raharjane bening tanpa tambuhan keling
obat putih, bronjong tapih, apa maneh ampas kluwih
sing ngarengga iline banyu (Gusti) sing sarwi merak ati
dadine, gawe gorehe awak petruk sing ketungka-tungki

II
rasa madu tanpa tutur lan olah suka
kanggo tamba katarak karbon nglemprake dioksida
madhani blarake netra, idhep-idhep tunggu nata
alah jebul aneng papan asmara ngalaras hayu yuwana

ngombyaki sapta rasa sing suwe angler datan sasami
dening kentrung, kenthong siomay sung padha makarti
mrabawa adi aneng tabuhan lan tetembangan lir resepsi
ana kalane, sang ratu kawimbuh lawuh pupu sakombenan ugi

III
milang-miling ngupadi tambane kembung
gumalundhung galudhug maweh lesuse kedhung
panyimpen satru murka kadi sasra sata ing tengah grumbulan
ngrasuk gubug mangkring engking kinempleng tuhu

maneka tedha den sambrama
dimen kasok kardi sesasi nganti lali dandang gumlonthang
den ucap, “alah mangsa alah pira!”
ning jebule, kanthonge bolong luput tembelan

IIII
Jatahe rabi ambok dilekasi, aja nganti dadi ekspansi
angrampungi sewu dedonga siji pangaji
ben apa sebut: sang ratu, kanthong bolong, bel geduwel
si petruk kudu panggah bali myang prayitneng  karti

ora amung klencer lumaku
amunge goleke turu lan sangu

Ungaran, 6 Desember 2013


GETHUK KETHEK
dening Didik Supriadi

iki wis daksawang lan dakrasakake
wujud mrengut warna coklat esem
sing sakala dadekake sasra kandha sewu pamundhutan

“rupa meneka warna iki aja koksemayani
nganggo suwe lan janji barat sacempe
amarga slageyan wis katon ngawe ngece
ngambus-ambus receh lan kulub kertase”

Gethuke gethuk kethek
digeget mathuk, kepenak yen malethek

Iki wis takgelung aneng pamikete
ombyake kahanan ora mung tiba dadi sulaya
sing sakala dadekake sasra kandha sewu pamundhutan

“ora gampang anggonmu gambuh atunggal kardi
samangsa karemanmu amung kulakan sata tahu
jinarweng bakso sing maweh puji rahayu
jebul, salira iki wis niti laku karyenak satuhu”

gethuke gethuk kethek
gelemu yen kethuthuk, kepara dadi theklek

iki dudu reka dayane tukang dagang hore
ing kene papan tahu sing pranyata rukun tetunggalan
sarasi sawiji satiti tata tur adi ta?

“wiwit biyen datan prabeda
ora kengguh kudu amasang umbul prandha
amung wimbuh emane kerep katrajang squer  kajejer
sing kebak sarinthil narabas jegur uwur bubure”

jebul gethuke wis ameh lis antek
bakale, ora bakal dakkulak kanggo sutresnaku
tundhane, daktuku kanggo tambaku

Cakra Sewu Dupa, 6 Desember 2013

Wednesday, November 27, 2013

Lignosus

Dening Didik Supriadi
 
Si Pocung bingung karang rinebut dhucung
kepangku keplangkrang
gegliyungan jroning gendhing
upamane rada alot, Pocung mimpang,

Emper-emper den seser-seser,
“diwolak-walika, mantrine pancen luput
jalaran wis wani sawiyah-wiyah
ngobong klaras wimbuhan glugu kumelun
kebak wereng lan bajing klapa
sing padha keplayu ngrubuti merang putun
sing padha pinatun pinatut turut galengan”

milang-miling ambawa giris,
“pitik sakkombong miris jajag gunem
kadi kesrimpet dhedhemit irung gruwung
binayang-bayang raupe srenggala kereng
embane wedhus prucul lelaku gedrug
ngadhuki bajang isi granat minangka layang
wulung pepatine kongkang ijo iwene si Pocung”

Dadia Jethayu sing lulus tinulis wasis
aprang tandhing mangsah Dasamuka
nadyan amung ketiban awu angete Sri Rama
apa malah dadi Jamur
amarga kadhung ilang wahyune kepungkur?
luwiha den slamet

Semarang, 26 November 2013