Sunday, March 2, 2008

Perkutut Siluman

Oleh: Ridwan Asmara

EMPAT tahun belakangan ini kekayaan Pak Kasim menanjak pesat. Tapi Pak Kasim bukanlah orang kaya yang pelit. Dia sangat dermawan. Dalam bergaul pun dia tidak membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin. Pak Kasim juga tak pernah mau menerima bunga dari uang yang dia pinjamkan. Istrinya, Bu Situn, juga demikian. Karena itulah, keluarga Pak Kasim sangat dihormati warga sekitarnya.



Sayangnya, Pak Kasim dan Bu Situn belum dikaruniai anak seorang pun. Itulah sebabnya pasangan suami istri itu mengadopsi dua orang anak laki-laki, Parto dan Parji. Mereka kakak beradik, lahir dari keluarga yang masih kerabat Pak Kasim di desa seberang. Kini, Parto dan Parji masing-masing berusia sekitar 25-24 tahun.

Setiap hari, sejak sore hingga malam, para tetangga berdatangan ke rumah Pak Kasim untuk nonton televisi. Maklumlah, di desa itu baru beberapa keluarga saja yang punya pesawat televisi. Televisi warna 27 inchi itu oleh pemiliknya sengaja ditaruh di ruang depan untuk memberi kelongaran bagi penonton yang sering membludak. Bahkan, kalau hari Minggu, sejak pagi televisi itu sudah dihidupkan. Sungguh, Pak Kasim orang yang murah hati.

Orang-orang itu tak tahu, apa yang membuat kekayaan Pak Kasim terus menanjak seperti tak terbendung. Yang namanya rejeki itu sepertinya terus mengucur dari berbagai penjuru ke dalam pundi-pundi Pak Kasim. Padahal Pak Kasim cuma berdagang kain dan tembakau. Khusus pada hari pasaran Pon dan Kliwon, dia berjualan kain. Sedangkan pada hari pasaran Paing dan Wage, Pak Kasim giliran tembakau yang dijual. Adapun pada hari pasaran Legi, Pak Kasim bersama isteri selalu pergi entah ke mana.

Banyak orang bertanya-tanya, tapi tak pernah mendapatkan jawaban. Soalnya, mereka memang tak pernah berani menanyakan langsung kepada Pak Kasim atau Bu Situn.

Sesungguhnya, pada hari pasaran Legi itu Pak Kasim bersama sang isteri hanya nyekar, menabur bunga di bawah pohon beringin yang tumbuh di dekat Kali Lanang di pojok desa Kemlokosari. Pohon beringin itu sangat besar, karena memang sudah sangat tua. Saking tuanya, sebagian batangnya berlubang karena lapuk. Itulah sebabnya orang-orang menyebutnya Ringin Growong.

Tradisi ritual menabur bunga di bawah pohon beringin yang dilakukan Pak Kasim dan Bu situn berawal sekitar 4 tahun lalu. Saat itu Kasim masih bekerja sebagai pencari rumput pada seorang peternak sapi, Pak Abdullah. Pada suatu hari Kasim merumput di sekitar pohon beringin itu. Ketika itulah Kasim melihat seekor burung perkutut yang bunyinya sangat bagus. Tanpa pikir panjang, Kasim meninggalkan keranjang rumputnya dan berusaha menangkap burung itu. Maksudnya, jika berhasil ditangkap, burung perkutut itu hendak dijual kepada juragannya. Pak Abdullah memang sangat suka memelihara burung.

Ke mana pun perkutut itu terbang, Kasim selalu mengikutinya. Hingga Kasim kelelahan, keringat deras mengucur dari tubuhnya. Tetapi Kasim tak putus asa. Apalagi saat membayangkan segepok uang yang akan diperolehnya jika burung itu berhasil dia ditangkap. Setelah terbang dan dari pohon satu ke pohon lainnya, perkutut itu akhirnya kembali lagi ke pohon beringin. Kasim terus mengejarnya. Tapi sayang, tampaknya kali ini tenaganya benar-benar habis. Dia terjatuh persis di pangkal pohon raksasa itu. Pingsan? Ah, ternyata tidak. Kasim malah tertidur!

’’Mas Kasim? Bangunlah!’’ sekonyong-konyong terdengar suara seorang perempuan.

Kasim membuka matanya. Dan dilihatnya seorang wanita cantik di dekatnya. Kasim tak percaya pada penglihatannya sendiri. Dia membelalakkan matanya, dia cubit pipinya sendiri, untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi.

’’Kamu ini siapa?’’ tanya Kasim.

Wanita cantik itu cuma mengumbar senyum. Tapi akhirnya keluar juga jawaban yang ditunggu-tunggu Kasim, ’’Namaku Diah Arianti.”
Kasim berusaha mengingat-ingat. Dia merasa pernah mendengar nama itu. Tapi Kasim yakin seyakin-yakinnya bahwa dirinya belum pernah kenal dengan pemilik nama Diah Arianti.

’’Rumahmu di mana?’’ tanya Kasim.

’’Ya, di sini. Aku benar-benar kelelahan. Tapi sampeyan tak mau mengerti, kamu terus saja mengejarku.’’

’’Oh, mengejarmu? Kapan?” tanya Kasim dalam nada keheranan.

“Ya, barusan ini tadi! Lupa, ya?”

Lalu tanpa sungkan-sungkan Diah Arianti bercerita bahwa sesungguhnya dia adalah perkutut yang tadi diburu Kasim. Kasim makin bengong. Kini Kasim sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan makhluk halus sebangsa peri. Nyali Kasim nyaris saja lenyap. Tapi melihat kecantikan Diah Arianti, semangat kelelakiannya seperti terpompa kembali. Diah Arianti bahkan menawarkan diri untuk jadi teman hidup Kasim dengan syarat setiap hari pasaran Legi, Kasim mau mendatangi pohon beringin itu. Itulah kesempatan yang ditunggu-tunggu Diah Arianti untuk memadu cinta, melepas rindunya kepada laki-laki dari bangsa manusia.

’’Bagaimana, Mas Kasim? Sanggup, enggak?’’ tanya Diah Arianti, makin menantang.

Kasim masih diam. Mungkin masih menimbang-nimbang.

’’Terus, aku kamu beri apa?’’ Kasim ganti bertanya.

’’Tergantung Mas Kasim mau apa? Pengin kaya? Aku sanggup membantu. Asal sampeyan tidak lupa setiap hari pasaran Legi menaburkan bunga di rumahku dan memenuhi keinginanku.’’

Kasim pun mengangguk.

Tiba-tiba Diah Arianti berubah wujud jadi perkutut, jinak di tangan Kasim. Perkutut itu lalu dibawanya pulang, ditempatkan di dalam sangkar bekas. Ketika Kasim menceritakan asal-muasal perkutut itu, Situn terperangah. Setelah Kasim mengatakan bahwa mereka akan menjadi kaya berkat bantuan perkutut siluman itu, Situn menjadi tenang. Bahkan Situn juga tak keberatan walaupun setiap hari pasaran Legi suaminya harus memenuhi nafsu birahi Diah Arianti.

’’Ya, sudahlah. Aku rela, asal kita bisa hidup enak. Tidak lagi serba susah seperti sekarang,’’ kata Situn pasrah.

[]

Demikianlah, setiap hari pasaran Legi, Pak Kasim mengunjungi ’isteri muda’-nya, Diah Arianti di pohon beringin itu. Pada saat yang sama, perkutut itu pun lenyap meninggalkan sangkarnya yang indah. Tentu saja kembali ke pohon beringin tua, berubah wujud menjadi wanita cantik bernama Diah Arianti.

Berkat perkutut siluman itu pula, Parto dan Parji bisa mengendarai sepeda motor dari jenis yang paling mutakhir. Mereka tampil trendi, berkalung emas, pakaiannya pun bermerek. Lepas dari itu semua, seluruh keluarga Pak Kasim tetap bersikap baik kepada para tetangga. Tidak pernah sombong walaupun kehidupannya telah berbalik seratus delapan puluh derajat dari keadaannya 4 tahun silam.

Pak Kasin dan Bu Situn malah sudah bisa membeli mobil. Dan, setelah mampu membeli mobil itulah sapaan “Lik Kasim” dan “Yu Situn” berangsur-angsur berubah pula jadi Pak Kasim dan Bu Situn. Menggaji sopir pun sebenarnya mereka mampu. Tetapi Pak Kasim memilih menyetir sendiri, mulai dari mengantar Bu Situn berbelanja hingga urusan-urusan lainnya.

Makin kaya, Pak Kasim makin dermawan. Dia rela mengeluarkan uang berjuta-juta rupiah untuk membantu pembangunan desa. Walaupun sudah menyumbang uang, namun Parto dan Parji tetap saja ikut kerja bakti. Bahkan, jika rombongan kerja bakti itu bekerja di dekat rumah Pak Kasim, Bu Situn akan menyediakan minum dan jajanan berikut rokoknya.

Kemudian, Parto terpilih jadi kepala desa, mengalahkan 3 calon lainnya. Rumah Pak Kasim yang besar dan megah itu pun semarak dalam tiga hari, untuk pesta kemenangan Parto. Dua ekor sapi disembelih untuk menjamu para tamu.

Parji juga sukses menyelesaikan kuliahnya. Saat dia diwisuda, seluruh keluarga datang menghadiri acara yang membahagiakan itu. Untuk kesuksesan Parji, juga diselenggarakan pesta besar-besaran.

Pak Kasim menjadi makin sibuk. Banyak acara, banyak kegiatan, karena dia dipercaya menjadi ketua pengurus sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Akibatnya, kewajibannya mencukupi nafkah batin Diah Arianti jadi terlupakan.

Sudah 4 kali Pak Kasim absen. Bahkan pada hari pasaran Legi yang kelima dia juga lupa. Sampai suatu hari Pak Kasim mendapati sangkar emas itu telah kosong. Pak Kasim kaget, saat itu juga dia menyadari keteledorannya. Segera burung perkutut itu dilacaknya ke pohon beringin tua, namun tak ketemu. Bu Situn menangis sehari semalam. Tetapi tangisan itu tak berhasil memanggil kembali perkutut siluman yang hilang.

Pak Kasim jatuh sakit. Sudah seminggu. Dokter angkat tangan. Sebab, menurut pemeriksaan medis, Pak Kasim tidak apa-apa. Sakitnya tergolong sangat aneh. Dia hanya merasa sakit, mungkin, dan tidak benar-benar sakit. Tapi apa bedanya dengan sakit beneran, kalau seseorang merasa sakit? Parto dan Parji ikut bingung. Apalagi Bu Situn, bisanya cuma menangis. Kadang-kadang meratap minta ampun kepada Diah Arianti.

’’Siapa Dian Arianti itu, Bu?’’ tanya Parto.

Bu Situn tak menjawab.

[]

Malam itu sangat pekat. Tak setitik bintang pun tampak di langit. Apalagi rembulan. Dingin seperti menggerus tulang. Seperti biasanya, para tetangga berkumpul di rumah Pak Kasim. Kali ini bukan untuk menonton televisi berwarna 27 inchi, melainkan untuk menunggui Pak Kasim yang masih tergolek tak berdaya.

Tiba-tiba, di tengah malam pekat itu terdengarlah suara perkutut manggung, “Hurktekung. Kung, kung, kung….”

Semua orang terkejut. Pak Kasim dan Bu Situn juga terkejut. Perkutut itu ada di dalam rumah. Tapi tak terlihat, entah hinggap di mana. Di dalam sangkar tampak kosong. Bu Situn makin yakin bahwa lenyapnya perkutut itulah penyebab sakit suaminya.

Sensasi malam itu ternyata masih terus berlanjut. Saat semua orang merasa putus asa untuk dapat menemukannya, tiba-tiba perkutut itu sudah hinggap di atas kepala Pak Kasim. Parto dan Parji yang duduk paling dekat dengan ayah angkatnya, jadi kaku tak bisa bergerak. Begitu pula yang lain, seperti tersihir. Pak Kasim sendiri sudah sedemikian parah. Sudah tiga hari tak bisa berkata-kata. Setiap perkutut itu berbunyi, Pak Kasim seperti semakin kesakitan. Bahkan sampai menggeliat-geliat.

Malam pekat itu terus merambat. Angin makin kencang. Dan gerimis pun turun. Suara perkutut itu terus terdengar mengumandang, ’’Hur ketekung, kung, kung....’’

Pak Kasim menggeliat, matanya melotot, dan lidahnya menjulur panjang. Sekali lagi menggeliat, Pak Kasim jatuh dari ranjangnya. Orang-orang masih terpaku, masih seperti tersihir oleh perkutut siluman itu.

Hanya dalam hitungan detik, mantan pencari rumput itu mengembuskan nafasnya yang terakhir. Saat itulah orang-orang seperti dilepaskan bersama-sama dari belenggu sihir yang sangat sensasional itu. Adapun perkutut siluman itu, kini, mungkin sedang menunggu kekasih yang baru.*

Judul asli: Perkutut Siluman
Panjebar Semangat No. 49, 3 Desember 1994

0 comments: