Sunday, March 2, 2008

Jerangkong

Oleh: Syamsoel SA

PONDOK pesantren Kedungmanten sedang kacau. Banyak santri baru yang merasa tidak tenteram, takut dan was-was. Tidak kelihatan wajah-wajah terang, gembira, seperti biasanya. Mulut mereka lebih banyak bungkam, padahal biasanya mereka selalu riang. Suara indah para santri perempuan yang mengumandangkan syair-syair pujian kepada Allah pun tiada terdengar. Keadaan itu terkait dengan peristiwa menjijikkan dan menakutkan yang terjadi beberapa hari lalu. Beginilah ceritanya:



Selepas isyak, para santri hendak berwudu di sumber Cakul. Belum sampai di tempat tujuan, mereka mengendus bau anyir menyengat. Disusul suara berisik, seperti suara beribu-ribu makhluk siluman. Para santri celingukan, mencoba mencari sumber suara yang kian lama kian jelas itu. Tetapi mereka tidak menemukannya. Rembulan sepotong yang tergantung di langit tak mampu menembus gelapnya sumber Cakul lantaran sinarnya terhalang rimbun pepohonan.

Seorang santri mencoba menyalakan korek, ada pula yang menghidupkan sentolop, namun alat penerang itu tak bisa berfungsi. Korek tak bisa nyala, dan sentolop pun tak bisa berpijar.

Sekonyong-konyong terjadi keajaiban. Kilat menyambar menyibak gelap malam. Saat itulah para santri melihat ribuan lele putih merayap di tanah, bergeriap-geriap sangat mengerikan. Tampak di barisan paling depan seekor lele yang hanya terdiri atas kepala dan ekor yang dihubungkan oleh duri-duri tajamnya. Ternyata, suara berisik yang terdengar tadi berasal dari ribuan hewan air yang sedang melintasi daratan itu.

Para santri seolah-olah tersihir tak mampu bergerak. Otot-otot tubuh mereka tak berdaya. Mau berteriak tak mampu. Mereka hanya memandang barisan ikan lele putih itu merayap masuk ke dalam sumber Cakul.

Sejak saat itu sumber Cakul tak pernah dikunjungi para santri, sebab menguarkan bau anyir.

[]

Kejadian di sumber Cakul telah membikin suasana pondok pesantren jadi kacau. Tidak sedikit santri yang kemudian minta dipulangkan, terutama santri perempuan. Kiai Kasan, pimpinan dan penanggung jawab pesantren Kedungmanten, merasa mendapat ujian berat. Sampai tengah malam, Kiai Kasan mengunci diri di dalam kamar. Tetapi perasaannya tetap tak bisa tenang. Dia berdiri lantas duduk kembali. Begitu terjadi berulang-ulang. Kiai Kasan mengambil kitab kuno yang lama tersimpan di atas rak. Kitab kuning itu dibukanya perlahan-lahan. Mulut tuanya pun komat-komit membaca tulisan arab pegon yang bentuknya keriting seperti kecambah.

Belum berselang lama terdengar suara salam dari luar.

’’Asalamualaikum….’’

’’Walaikumsalam.…’’

Kiai Kasan membuka pintu. Ternyata yang bertamu Brahim, santri yang dia percaya menjadi ketua keamanan pondok pesantren.
’’Ada apa Him, tampaknya sangat penting,’’ tanya Kiai Kasan.
’’Celaka, Kiai,’’ jawab Brahim gugup.

’’Tenangkan hatimu, selanjutnya bicaralah yang jelas.’’

’’Menurut laporan teman-teman ada kejadian aneh lagi. Terhitung sudah tiga hari ini, setiap kali mereka memasak, nasi berubah busuk disertai bau bangkai yang sangat menyengat, ketika belum lagi diangkat dari periuk.’’

Kiai Kasan termangu. Jidatnya berpeluh. Kiai tua itu berpikir keras, mengenai kejadian aneh yang menimpa pondok pesantrennya. Peristiwa di sumber Cakul belum terungkap, kini bertambah lagi peristiwa lain yang tak kalah pelik. Berkali-kali Kiai Kasan mengucap ihtiqfar, memohon ampun kepada Allah. Suasana kamar sunyi senyap. Hanya dengus nafas Kiai Kasan yang terdengar.

’’Bagaimana Kiai?’’

’’Peristiwa ini tak boleh dianggap enteng. Jika tak segera diselesaikan akan membawa akibat buruk bagi pondok kita ini. Oleh karena itu kamu sebagai santri paling senior, kupercaya untuk menyelesaikan persoalan ini. Sanggupkah kamu, Ibrahim?’’

’’Insya-Allah, Kiai.’’

’’Mulai besok malam kamu kuberi tugas berjaga-jaga di tapal batas pondok ini. Tugasmu mengamati segala tingkah laku makhluk halus yang mengganggu kita. Yang terpenting ialah, kamu bisa menemukan di mana tempat persembunyian makhluk laknat itu. Jika ketemu, segeralah melapor kepadaku.”

Kiai Kasan menyerahkan selembar kertas kepada Ibrahim, berisi lafal-lafal suci disertai keterangan cara penggunaannya. Lafal-lafal suci itu berfungsi untuk melihat alam gaib makhluk halus. Sejenak Ibrahim memperhatikan tulisan dari Kiai Kasan, lantas berkata, “Bolehkah saya membawa teman, Kiai?”

“Boleh, asal tidak terlalu banyak. Cukup satu atau dua oorang saja.”

“Terima kasih, Kiai.”

Ibrahim keluar kamar, Kiai Kasan kembali menyimak kitab kuning.

[]

Malam berikutnya Ibrahim dan kedua orang temannya, Somad dan Badrun, telah siap di tapal batas pondok pesantren. Mereka membawa belati, sentolop, dan peralatan lain yang diperlukan. Malam merangkak pasti. Namun, mereka tak mendapati kejadian apa-apa kecuali sepi yang makin senyap.

Pengalaman demikian berlangsung hingga tiga malam berturut-turut. Pada malam ke-4, bertepatan dengan hari Jumat-Legi, Ibrahim dan teman-temannya mencium bau busuk yang sangat menyengat. Ketiga orang itu segera bergerak mencari sumber bau busuk itu. Sampailah mereka di bawah pohon jenar yang tumbuh condong ke arah kuburan tua. Mereka berhenti. Mulut Ibrahim komat-kamit mengucapkan lafal-lafal suci yang dia peroleh dari Kiai Kasan. Ketika itulah Ibrahim melihat bayangan putih berkelebat dari arah kuburan. Jerangkong! Makhluk halus berujud kerangka itu berjalan. Suaranya gemeletuk. Bau busuk itu pun makin menyengat. Jerangkong itu menuju ke arah belakang pondok pesantren.

Ibrahim dan kedua orang temannya diam-diam membuntuti jerangkong itu. Mulut mereka tak henti-hentinya berkomat-kamit mengucapkan lafal suci. Sampai di sebuah bangunan yang terletak di bagian belakang bangunan induk pondok, yang digunakan sebagai dapur, jerangkong itu berhenti, menoleh ke sana-kemari, seolah-olah sadar bahwa ada yang membuntutinya. Sebentar kemudian jerangkong itu memasuki dapur melalui lubang pintu. Ibrahim mengintip apa yang dilakukan makhluk halus berbentuk kerangka itu. Ternyata si jerangkong membuka tudung periuk, kemudian memasukkan ujung jarinya ke dalam periuk. Itulah yang menyebabkan nasi di dalam periuk membusuk seketika diikuti ribuan belatung entah dari mana datangnya.

Jerangkong itu berbalik dengan tergesa-gesa ke arah barat laut. Ibrahim dan kedua temannya terus membuntuti. Di bawah pohon kenari, jerangkong itu berhenti dan jongkok di situ. Tampaknya tempat itu merupakan kuburan tua yang tidak terurus. Ia berada sekitar 10 meter dari kuburan utama yang ada di belakang masjid. Nisannya cuma tinggal sebuah, rumput pun tumbuh subur.

Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan, jerangkong itu masuk ke dalam tanah.

[]

Hari berikutnya, Ibrahim melapor kepada Kiai Kasan. Pemilik pondok pesantren itu sangat senang mendapat laporan Ibrahim.

“Him, dan kamu Badrun dan Somad….”

“Ya, Kiai,” jawab ketiganya bersamaan.

“Pekerjaan ini belum selesai. Masih ada tugas lagi buat kalian. Beranikah kalian?”

“Ya, Kiai.”

“Kalau begitu, mulai malam Senin Wage mendatang, kalian harus berjaga mengawasi kuburan tua di bawah pohon kenari itu. Nanti jika jerangkong itu keluar dari dalam kubur, segeralah kalian sumbat lobang kecil yang pasti akan kalian temukan nanti, dengan sapu tangan ini,” Kiai Kasan menyerahkan sapu tangan.

Pada kesempatan itu Kiai Kasan juga menyerahkan sapu tangan putih yang sudah ditulisi dengan rajah rapal suci. Ibrahim dan kedua temannya segera berpamitan.

Pada hari yang ditentukan, malam Senin Wage selepas isya, Ibrahim dan dua temannya berjaga dekat kuburan tua itu. Mereka berjaga dengan sabar. Mereka menahan diri untuk tidak bercakap-cakap dengan suara keras. Bahkan mereka hampir tak sempat bicara satu sama lain. Masing-masing sibuk mengucapkan lafal suci yang diperoleh dari Kiai Kasan.

Sekitar pukul 02.00 dini hari, terdengar suara burung malam mengiris keheningan. Angin semilir menyebarkan aroma busuk persis bau bangkai.

Ibrahim memberi isyarat dua temannya agar bersiap diri. Mereka mengawasi kuburan tua di bawah pohon kenari. Dengan bantuan sinar rembulan, mereka dapat melihat sesosok bayangan putih samar-samar muncul dari dalam kuburan. Dialah jerangkong yang ditunggu-tunggu. Makhluk itu berjalan cepat, tulang-tulangnya menimbulkan suara aneh, berderit-derit.

Sekali lagi Ibrahim memberi isyarat kedua temannya untuk menyumbat lobang kuburan. Kedua temannya bergerak cepat. Lobang di atas kuburan tua itu mereka temukan. Lantas disumbat dengan sapu tangan pemberian Kiai Kasan. Sesudah itu mereka cepat-cepat pergi menjauh.

Tak lama kemudian jerangkong itu datang kembali. Ia tampak bingung mencari lobang kuburan. Berjalan berputar-putar di area kuburan itu, tak bisa masuk seperti biasanya.

Adzan subuh terdengar. Mengumandang dari masjid pondok. Saat itulah terjadi peristiwa dramatis, si jerangkong yang suka mengganggu itu roboh, tulang-tulagnnya lepas satu sama lain. Mengonggok di atas kuburan tua.

Kiai Kasan dan ketiga santrinya mengemasi tulang itu dan membawanya ke pondok. Setibanya di pondok, tulang jerangkong itu dibakar, disaksikan para santri. Ketika api melalap tulang itu, terdengar jerit menyayat hati. Seperti jerit manusia yang terbakar. Makin lama makin lemah, seperti hanyut dibawa angin. Akhirnya hilang sama sekali.

Sejak saat itu pondok Kedungmanten kembali semarak. Gangguan yang selama ini merisaukan para santri sudah berhasil dienyahkan.

Judul ali: Jrangkong
Panjebar Semangat No. 15, 9 April 1994

0 comments: